Kapri baru masuk dan dikenal di
Indonesia pada tahun 1980-an. Jika ditelusuri, kapri merupakan sayuran yang
bersal dari Asia Tengah, yaitu India, Afganistan, Tajikistan dan bagian Barat
Tian Shan. Di Indonesia, daerah yang banyak ditanami sayuran ini adalah Jawa
Barat, Jawa Timur dan Sumatera Utara.
Sayuran yang memiliki nama latin
Pisum satium ini tumbuh di daerah dengan ketinggian 700 m di atas permukaan
laut. Dari berbagai daerah yang telah disebutkan tadi, ada beberapa tempat yang
menjadi sentra produksi kapri. Beberapa di antaranya adalah Karo (Sumatera
Utara) yang bahyak memproduksi kapri segar. Sedangkan untuk kapri yang
berbentuk biji belu/ baby kapri, sentra produksinya ada di malang dan Pasuruan
(Jawa Timur).
Kapri merupakan tanaman semusim
dan memiliki umur sekitar 3-3,5 bulan. Kapri tergolong ke dalam tanaman semak
yang menjalar atau merambat dengan batang panjang, kecil, ramping, berbuku-buku
dan mempunyai alat pembelit di bagian ujung cabang. Tanaman ini memiliki banyak
variasi bentuk, mulai dari bulat atau bundar, hingga berbentuk keriput. Jika
dilihat dari ukurannya, kapri pun memiliki variasi ukuran dari yang kecil
sampai besar, dengan serat polong halus dan kasar.
Kapri memiliki beberapa varietas,
tetapi yang sering dibudidayakan adalah jenis kapri field pea dan sweet pea.
a. Kapri atau Kapusiner (Pisum
sativum arvense L)
kapri jenis ini memiliki
ciri-ciri: buah atau polong berbentuk pipih; tekstur agak liat; biji berbentuk
bulat, besar dan bersiku; biji tua yang masih mentah mempunyai rasa kelat
(getir); dan pada setiap ujung buah terdapat alat pemegang berukuran pendek.
Kapri biasa dikonsumsi sebagai polong muda. Warnanya dibedakan menjadi kapri
ungu dan kapri putih.
b. Ercis (Pisum sativum axiphium
L)
ercis memiliki ciri-ciri: buah
atau polong bengkok; tidak ada alat pemegang pada ujung buahnya; biji
kecil-kecil; dan biji yang sudah tua tidak terasa getir. Ercis dapat dibedakan
menjadi dua sebagai berikut
§
Ercis dengan polong muda yang tidak mudah
dipatahkan karena memiliki kandungan serat yang tinggi. Bagian yang dikonsumsi
dari ercis yang dikenal dengan nama doperwt atau ercis hijau ini adalah
bijinya.
§
Ercis dengan polong muda yang mudah dipatahkan
karena memiliki kandungan serat rendah. Polong tua ercis ini akan berkerut
sedangkan bagian bijinya tetap membengkak. Biji ercis yang dikenal dengan nama
peut atau ercis gula (sweet pea) ini memiliki rasa yang enak, gurih dan manis.
Dari kedua jenis kapri tersebut,
yang sering dikonsumsi jenis sweet pea. Selain itu, produk kapri juga dibagi
menjadi tiga, yaitu polong muda, polong tua (biji) dan pucuk atau baby kapri.
Kapri yang sering kita temuai di swalayan dan banyak diproduksi adalah baby
kapri.
polong kapri kaya akan vitamin k sekaligus
mengaktifkan osteoklasin (mengikat kalsium dari makanan)
Kandungan Gizi Kapri
Jenis kapri yang beragam
menyebabkan kandungan zat gizinya pun berbeda. Berikut kandungan zat gizi
antara kacang kapri dan kapri muda dalam 100 gram bahan.
Kandungan gizi kapri per 100 gram
Kandungan Gizi Kacang Kapri Kapri Muda
Energi (kcal) 98 42
Protein (g) 6,7 3,3
Lemak (g) 0,4 0,2
Karbohidrat (g) 17,7 9
Kalsium (mg) 22 51
Fosfor (m) 122 85
Besi (mg) 2 1
Vitamin A (SI) 680 440
Vitamin B1 (mg) 0,34 0,2
Vitamin C (mg) 26 49
Vitamin dan Mineral, Antioksidan Penting
Seperti kebanyakan sayuran lain,
zat gizi utama dari kapri adalah serat pangan, karbohidrat, protein, lemak, provitamin
A, vitamin C dan mineral. Vitamin C dalam kapri berperan sebagai antioksidan,
seperti peran vitamin C di sayuran yang lain. Selain itu, kandungan thiamin,
riboflavin dan niasin membantu pengaturan tingkat lemak, karbohidrat dan
protein dalam tubuh.
Vitamin K dan Asam Folat, Pencegah Osteoporosis
Keistimewaan dari kapri adalah
kandunga vitamin K yang berfungsi untuk mengaktifkan osteroklasin, suatu
protein non-kolagen dalam tulang yang berfungsi mengikat kalsium yang kita
peroleh dari makanan. Kapri juga mengandung asam folat yang penting untuk
pencegahan osteoporosis dan asteroskelorosis dengan mengurangi pembentukan
homosistein. Konsumsi kapri secara rutin terbukti bermanfaat sebagai
anti-inflamantori untuk penderita asma, penyakit autoimun, arthritis dan asam
urat.


No comments:
Post a Comment