Walaupun terkenal karena rasa
pahitnya, paria atau pare tetap menjadi kesukaan banyak orang. Tanaman dengan
nama latin Momordica charantia L ini
tergolong bangsa Cucurbitaceae dan banyak ditemukan di daerah tropis yang
penyebarannya meliputi Cina, India dan Asia Tenggara. Daun pare yang berbentuk
menyerupai jari dengan bunga berwarna kuning biasa digunakan sebagai
pengobatan.
Pare tumbuh dengan cara menjalar
atau meranbat. Butuh waktu satu tahun untuk tanaman ini berkembang sebelum
dapat dikonsumsi. Budi daya pare tegolong mudah dan tidak tergantung musim.
Pare dapat tumbuh baik di dataran rendah dan ditemukan liar di tanah terlantar
atau tegalan. Pare juga dapat dibudidayakan atau ditanam di pekarangan. Tanaman
ini memang tidak memerlukan banyak sinar matahari dan dapat tumbuh subur di
tempat yang agak terlindungi.
Ada tiga jenis yang sering
ditemui, yaitu pare gajih, pare kodok dan pare hutan. Masing-masing memiliki
ciri-ciri yang berbeda, seperti berikut.
Pare Gajih
Pare gajih berasal dari India
atau Afrika. Pare jenis ini berdaging tebal dengan warna buah hijau muda atau
keputihan. Bentuk buahnya besar dan panjang dengan rasa yang tidak begitu pahit
dengan bobot 200-500 gram. Para jenis ini paling banyak disuka dan
dibudidayakan.
Pare Hijau
Pare hijau memiliki bentuk
lonjong, kecil dan berwarna hijau dengan bintil halus pada permukaannya. Pare
ini memiliki berbagai macam jenis, seperti pare ayam, pare kodok, pare serta,
pare alas atau pare ginggae. Dari ketiga jenis pare tersebut, pare ayam
merupakan jenis yang sering ditanam. Rasa pare hijau ini pahit dengan daging
buah yang tipis.
Pare Impor
Pare impor berasal dari taiwan.
Pare jenis ini memiliki tiga varietas. Benih pare impor ini termasuk dalam
hybrid final stock, yaitu tidak dapat menghasilkan bibit baru setelah ditanam.
Jika dipaksakan, malah akan menghasilkan produksi yang menyimpang dari aslinya
dengan kualitas yang tidak bagus.
Pare Belut
Pare belut ini kurang populer
dibandingkan dengan ketiga jenis pare lainnya. Bentuk pare belut memanjang
seperti belut dengan panjang 30-110 cm dan diameter 4-8 cm. Walaupun begitu,
setelah diolah menjadi masakan, pare ini pun banyak disukai.
Pare memiliki banyak nama lain,
seperti M. Balsamina, Blanco, M. Blasamina, Descourt, Lindi. Di beberapa daerah
pun pare ini juga memiliki berbagai sebutan khas, seperti prien (Gayo), paria
(Batak, Toba), kambeh (Minangkabau), paria (Sunda), Payu (Bali), paria (Bugis)
dan Kepari (Ternate).
pare sebagai antidiabetes aktivitas lektin yang ada dalam pare menyerupai insulin yang dapat menurunkan gula darah
Kandungan Gizi Pare
Berikut kandungan gizi pada buah
pare dan daun pare dalam 100 gram bahan
Kandungan zat gizi pare dan daun
pare per 100 gram bahan
Zat Gizi Buah Pare Daun Pare
Air (g) 91,2 80
Kalori (g) 29 44
Protein (g) 1,1 5,6
Lemak (g) 1,1 0,4
Karbohidrat (g) 0,5 12
Kalsium (mg) 45 264
Zat Besi (mg) 1,4 5
Fosfor (mg) 64 666
Vitamin A (SI/mg) 18 5,1
Vitamin B (mg) 0,08 0,05
Vitamin C (mg) 52 170
Folasan (mg) 0 88
Di balik rasa pahitnya, pare
menyimpan berbagai macam manfaat yang mengungtungkan bagi kesehatan. Banyak
yang tidak menyukai pare karena rasa pahit yang terkandung di dalamnya, padahal
rasa pahit inilah yang justru menyimpan manfaat. Beberapa manfaat pare adalah
merangsang nafsu makan, menyembuhkan penyakit kuning, memperlancar pencernaan
dan obat malaria.
Si Pahit Obat Cacing
Pare memiliki khasiata dalam
melancarkan pencernaan, menyembuhkan dispepsia dan menyembuhkan konstipasi.
Ekstrak pare juga dikenal memiliki efek antihelmintik dan dimanfaatkan untuk
melawan cacing nematode Caenorhabditis elegans. Bahkan di Togo, pare digunakan
sebagai obat tradisional penyembuh saluran pencernaan akibat cacing tersebut.
Si Pahit Antimalaria
Khasiat pare sebagai antimalaria
telah dikenal di Guyana. Cara pengo;ahannya dengan merebus pare kemudian
dimasak dengan menggunakan bumbu dan bawang yang dikenal sebagai corolla.
Si Pahit Antikanker
Sebagai antikanker, pare
mengandung senyawa 15, 16-dihydroxy-1-eleostearic, acid yang diekstraksi.
Menurut penelitian yang telah dilakukan, senyawa-senyawa ini dapat
menginduksikan apoptosis dari sel leukimia secara in vitro.
Si Pahit Anti-HIV
Konsumsi pare secara teratur juga
dapat memperlambat perkembangan virus HIV pada orang yang terinveksi. Anti-HIV
dalam pare didapatkan dari kandungan alpha-momorchin, beta-momorchin dan MAP30.
Peranan buah pare dalam menghambat perubahan sel ini juga dipengaruhi oleh rasa
pahit pare yang mengandung cucurbitacin (momordikosida K dan L).
Si Pahit Antidiabetes
Manfaat lain dari dare adalah
sebagai antidiabetes. Para dapat mencegah dan melawan penyakit diabetes melitus
tipe-2. Manfaat ini dibuktikan oleh penelitian yang dilakukan pada tahun 1962
oleh Lolitkar dan Rao yang mengekstraksi suatu zat tumbuhan yang diberi nama charantin. Zat ini memiliki efek hipoglikemik
pada kelinci normal dan kelinci yang mengalami diabetes.
Peran pare sebagai efek
antidiabetes merupakan pengaruh dari kandungan lektin yang memiliki aktivitas
pada insulin. Lektin menurunkan konsentrasi glukosa darah dengan bekerja pada
jaringan periferal yang fungsinya sama seperti efek insulin pada otak dalam
menekan nafsu makan. Campuran flavonoid dan alkaloid pada pare menyebabkan
pankreas memproduksi insulin lebih banyak untuk mengontrol gula darah penderita
diabetes. Tak hanya itu, senyawa aktif saponin, karantin dan glikosida dan
cucurbitacin pada pare memiliki efek menurunkan kadar gula darah.
Si Pahit Antioksidan
Ekstrak pare juga telah terbukti
mengandung antioksidan. Aktivitas ini muncul saat ekstrak pare direbus
menunjukkan perbedaan penting dalam menangkap radikal bebas. Esktrak yang
diperoleh dengan maserasi dingin dengan ekstrak yang diperoleh dengan cara
panas menunjukkan perbedaan signifikan karena adanya perubahan komposisi kimis
tumbuhan selama proses pemanasan. Proses inilah yang meningkatkan jumlah
komponen antioksidan.


No comments:
Post a Comment